Upacara Adat Larung Sembonyo Keprihatinan Masyarakat Ke Laut (2024) Amazing
Upacara Adat Larung Sembonyo Keprihatinan Masyarakat Ke Laut
cnnindonesi.com – Di balik debur ombak Pantai Prigi yang menawan, tersimpan tradisi budaya yang lestari: Upacara Adat Larung Sembonyo. Upacara ini tak sekadar ritual, namun merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat nelayan atas limpahan hasil laut dan penghormatan kepada para leluhur pembuka kawasan. Mari kita menyelami makna mendalam dari upacara adat yang unik ini.
Asal Usul dan Sejarah

Larung Sembonyo merupakan upacara adat yang berasal dari masyarakat pesisir, terutama di daerah-daerah seperti Sulawesi Selatan, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Sejarahnya berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat nelayan yang sangat bergantung pada hasil laut. Upacara ini biasanya dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan oleh laut, sekaligus sebagai doa untuk keselamatan para pelaut dan hasil panen yang berlimpah.
Wujud Syukur dari Laut yang Melimpah
Masyarakat nelayan di sekitar Teluk Prigi meyakini Laut Jawa sebagai sumber kehidupan. Dari sanalah mereka mengais rezeki, menopang kehidupan keluarga dan masyarakat. Upacara Larung Sembonyo menjadi perwujudan rasa syukur mereka atas berkah yang diberikan.
Upacara ini biasanya digelar setahun sekali pada bulan Sura (kalender Jawa) atau sekitar bulan Juli-Agustus. Puncak upacara ditandai dengan dilarungkannya sesajen yang disebut “tumpeng agung.” Tumpeng ini bukanlah sembarang tumpeng. Ia dibuat dengan penuh ketelitian dan doa, berisi hasil bumi, kepala sapi, dan berbagai lauk pauk.
Sebelum dilarungkan, tumpeng agung dikirab bersama masyarakat dari kantor kecamatan menuju Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. Iring-iringan ini dipenuhi dengan semangat dan kegembiraan. Anak-anak berlarian, para pemuda memukul drum, dan para sesepuh memanjatkan doa dalam hening.
Sesampainya di pelabuhan, tumpeng agung dibawa ke atas perahu yang sudah dihias dengan indah. Para tokoh adat dan pemuka agama kemudian memimpin doa bersama untuk keselamatan para nelayan dan kelestarian laut. Diiringi musik tradisional dan lantunan doa, perahu perlahan meninggalkan bibir pantai, membawa sesajen menuju tengah laut.
Penghormatan untuk Leluhur Pendiri Teluk Prigi

Upacara Larung Sembonyo tak hanya sebagai bentuk syukur, tetapi juga sebagai penghormatan kepada para leluhur. Masyarakat Prigi meyakini bahwa kawasan ini dibuka oleh tokoh bernama Tumenggung Yudho Negoro beserta empat saudaranya. Mereka berjasa dalam membabat hutan dan membuka daerah Pacitan, Sumbreng, hingga Prigi menjadi permukiman yang ramai seperti sekarang.
Pelaksanaan Larung Sembonyo menjadi wujud penghormatan kepada para leluhur tersebut. Dengan melarungkan sesajen, masyarakat berharap para leluhur turut menerima berkah dari laut dan senantiasa melindungi para nelayan saat mencari nafkah.
Lebih dari Upacara, Simbol Kebersamaan Masyarakat
Upacara Larung Sembonyo bukanlah sekadar ritual keagamaan, namun juga menjadi perekat sosial yang kuat bagi masyarakat Prigi. Seluruh lapisan masyarakat terlibat dalam berbagai persiapan upacara. Mulai dari mengumpulkan hasil bumi, memasak lauk pauk, menghias perahu, hingga berpartisipasi dalam kirab.
Upacara ini menjadi momen bertemunya para nelayan, petani, pengrajin, dan pemuka masyarakat. Mereka bahu-membahu, saling bergotong royong untuk mensukseskan upacara. Hal ini memperkuat rasa persaudaraan dan solidaritas di antara masyarakat Prigi.
Upacara yang Dinamis: Adaptasi dan Pelestarian
Seiring berjalannya waktu, Upacara Larung Sembonyo mengalami perkembangan. Dahulu, sesajen yang dilarungkan tidak hanya berupa tumpeng, tetapi juga kepala kerbau. Namun, sekarang diganti dengan kepala sapi karena populasi kerbau yang semakin berkurang. Selain itu, perahu yang digunakan pun tidak lagi dibuat khusus dari kayu, melainkan menggunakan perahu nelayan yang sudah dimodifikasi.
Perubahan tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat Prigi dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosial. Namun, inti dari upacara, yakni sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan, tetap terjaga dengan baik.
Upacara Larung Sembonyo: Menghargai Alam dan Leluhur

Upacara Adat Larung Sembonyo memberikan pesan penting tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan menghargai para leluhur. Dengan mensyukuri hasil laut, masyarakat Prigi diingatkan untuk tidak merusak dan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Upacara ini juga menjadi pengingat agar generasi muda tidak melupakan jasa para leluhur yang telah membuka wilayah tersebut.
Lebih dari sekadar tradisi, Larung Sembonyo menjadi warisan budaya yang tak ternilai harganya. Upacara ini tak hanya dinikmati oleh masyarakat Prigi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata tersendiri. Keunikan ritual, perpaduan budaya dan religi, serta semangat kebersamaan yang terjalin, menjadikan Larung Sembonyo sebagai warisan budaya.


